Saturday, September 25, 2010

asal mula musik hardcore

~>HARDCORE<~
sejarah musik hardcore
~HARDCORE~ - hardcore by bali

Hardcore..! Kata yg sering disebut banyak orang terutama kaum remaja ini sebenarnya bukan hanya sekedar jenis musik saja, melainkan sebuah perasaan yg peka atau kuat yg di sertai dngn prilaku berdasarkan kecintaan terhadap hidup. Tepatnya sebuah emosi jiwa. Arti kata dari hardcore ini adalah 'yang paling' atau 'intisari'.. Tapi bukan intisari / inek, merk minuman.
Arti lain dr hardcore mrupakan suatu bentuk ekspresi yg di keluarkan dlm bentuk gaya hidup dgn pemikiran kedepan & perhatian mereka terhadap lingkungan hidup. Hardcore juga merupakan gaya hidup, tingkah laku, komunitas terbuka, perasaan, emosi jiwa, kebersamaan, persatuan & kesatuan, persahabatan sejati, persaudaraan yg tidak memandang segi hal apapun.
Asal muasal maraknya musik hardcore yaitu sekitar tahun 1970 & awal tahun 1980-an, di Amerika terdapat sekelompok anak muda yg terdiri dari remaja2 miskin yg mencari nafkah sebagai buruh, beberapa di antara mereka adalah skateboarder jalanan, gangster atau preman & beberapa remaja lainnya rata2 pengangguran yg putus sekolah. Mereka semua ini penggemar berat musik punk rock & oi.! & mereka punya grup band beraliran sama. Para remaja inilah yg nantinya jadi pondasi awal sejarah pergerakan komunitas hardcore di dunia.
Musik hardcore banyak yg menyebut sebagai musik underground, karena kebanyakan komunitas ini tidak di publikasikan kepada masyarakat luas. Orang tidak akan mengenal siapa saja yg bergerak di balik musik hardcore ini. Karena musik mereka tidak memiliki karakter yg subjektif, musik punk di sini dpt di publikasikan & dpt dikenal dari ciri khas & style mereka. Dan komunitas hardcore ini tidak memandang profesi, siapa & dari mana asal & usia mereka itu.
Pendiri aliran musik hardcore ini terdiri dari 3 band, yaitu:

Pertama, yaitu Bad Brain yg menyebarkan aliran hardcore dgn mengadakan konser2 di sebagian kota, sehingga musik hardcore mulai di kenal oleh khalayak & masyarakat luas.

Kedua yaitu Bad Flag, band ini mulai membentuk musik hardcore dengan merubah aransmen lagu step by step menjadi lebih cepat, sehingga hardcore memiliki karakter musik ter sendiri.

Dan ketiga yaitu Minor Threat, pada band inilah nampak jelas perbedaan antara musik punk & hardcore, Minor Threat menyerukan Straight Age kepada komunitasnya yaitu dgn mengajak komunitas hardcore untuk hidup lebih positif. Karena pada era tahun 1970-an banyak para remaja yg mati sia - sia akibat penggunaan Narkoba yg kelewat batas.
Straight Age kemudian di pecah menjadi dua bagian, yaitu bagian positif yg merupakan pengikut dari kalangan vegetarian & anti rokok, sedangkan bagian yg negatif.. Ya, kebalikannya donk...!
 
 
 
 
 
By: Agung Reza

Friday, September 3, 2010

Legenda Reog Ponorogo dan Warok

Legenda REOG PONOROGO dan WAROK

reog151
Pertunjukan Reog Ponorogo © 2005 arie saksono

Salah satu ciri khas seni budaya Kabupaten Ponorogo Jawa Timur adalah kesenian Reog Ponorogo. Reog, sering diidentikkan dengan dunia hitam, preman atau jagoan serta tak lepas pula dari dunia mistis dan kekuatan supranatural. Reog mempertontonkan keperkasaan pembarong dalam mengangkat dadak merak seberat sekitar 50 kilogram dengan kekuatan gigitan gigi sepanjang pertunjukan berlangsung. Instrumen pengiringnya, kempul, ketuk, kenong, genggam, ketipung, angklung dan terutama salompret, menyuarakan nada slendro dan pelog yang memunculkan atmosfir mistis, unik, eksotis serta membangkitkan semangat. Satu group Reog biasanya terdiri dari seorang Warok Tua, sejumlah warok muda, pembarong dan penari Bujang Ganong dan Prabu Kelono Suwandono. Jumlah kelompok reog berkisar antara 20 hingga 30-an orang, peran utama berada pada tangan warok dan pembarongnya.
reog241
Pembarong dengan Dadak Merak © 2005 arie saksono

Seorang pembarong, harus memiliki kekuatan ekstra. Dia harus mempunyai kekuatan rahang yang baik, untuk menahan dengan gigitannya beban “Dadak Merak” yakni sebentuk kepala harimau dihiasi ratusan helai bulu-bulu burung merak setinggi dua meter yang beratnya bisa mencapai 50-an kilogram selama masa pertunjukan. Konon kekuatan gaib sering dipakai pembarong untuk menambah kekuatan ekstra ini, salah satunya dengan cara memakai susuk, di leher pembarong. Untuk menjadi pembarong tidak cukup hanya dengan tubuh yang kuat. Seorang pembarong pun harus dilengkapi dengan sesuatu yang disebut kalangan pembarong dengan wahyu yang diyakini para pembarong sebagai sesuatu yang amat penting dalam hidup mereka. Tanpa diberkati wahyu, tarian yang ditampilkan seorang pembarong tidak akan tampak luwes dan enak untuk ditonton. Namun demikian persepsi misitis pembarong kini digeser dan lebih banyak dilakukan dengan pendekatan rasional. Menurut seorang sesepuh Reog, Mbah Wo Kucing “Reog itu nggak perlu ndadi. Kalau ndadi itu ya namanya bukan reog, itu jathilan. Dalam reog, yang perlu kan keindahannya“.
Legenda Cerita Reog
Reog dimanfaatkan sebagai sarana mengumpulkan massa dan merupakan saluran komunikasi yang efektif bagi penguasa pada waktu itu. Ki Ageng Mirah kemudian membuat cerita legendaris mengenai Kerajaan Bantaranangin yang oleh sebagian besar masyarakat Ponorogo dipercaya sebagai sejarah. Adipati Batorokatong yang beragama Islam juga memanfaatkan barongan ini untuk menyebarkan agama Islam. Nama Singa Barongan kemudian diubah menjadi Reog, yang berasal dari kata Riyoqun, yang berarti khusnul khatimah yang bermakna walaupun sepanjang hidupnya bergelimang dosa, namun bila akhirnya sadar dan bertaqwa kepada Allah, maka surga jaminannya. Selanjutnya kesenian reog terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Kisah reog terus menyadur cerita ciptaan Ki Ageng Mirah yang diteruskan mulut ke mulut, dari generasi ke generasi.
Menurut legenda Reog atau Barongan bermula dari kisah Demang Ki Ageng Kutu Suryonggalan yang ingin menyindir Raja Majapahit, Prabu Brawijaya V. Sang Prabu pada waktu itu sering tidak memenuhi kewajibannya karena terlalu dipengaruhi dan dikendalikan oleh sang permaisuri. Oleh karena itu dibuatlah barongan yang terbuat dari kulit macan gembong (harimau Jawa) yang ditunggangi burung merak. Sang prabu dilambangkan sebagai harimau sedangkan merak yang menungganginya melambangkan sang permaisuri. Selain itu agar sindirannya tersebut aman, Ki Ageng melindunginya dengan pasukan terlatih yang diperkuat dengan jajaran para warok yang sakti mandraguna. Di masa kekuasaan Adipati Batorokatong yang memerintah Ponorogo sekitar 500 tahun lalu, reog mulai berkembang menjadi kesenian rakyat. Pendamping Adipati yang bernama Ki Ageng Mirah menggunakan reog untuk mengembangkan kekuasaannya.
Reog mengacu pada beberapa babad, Salah satunya adalah babad Kelana Sewandana. Babad Klana Sewandana yang konon merupakan pakem asli seni pertunjukan reog. Mirip kisah Bandung Bondowoso dalam legenda Lara Jongrang, Babad Klono Sewondono juga berkisah tentang cinta seorang raja, Sewondono dari Kerajaan Jenggala, yang hampir ditolak oleh Dewi Sanggalangit dari Kerajaan Kediri. Sang putri meminta Sewondono untuk memboyong seluruh isi hutan ke istana sebagai mas kawin. Demi memenuhi permintaan sang putri, Sewandono harus mengalahkan penunggu hutan, Singa Barong (dadak merak). Namun hal tersebut tentu saja tidak mudah. Para warok, prajurit, dan patih dari Jenggala pun menjadi korban. Bersenjatakan cemeti pusaka Samandiman, Sewondono turun sendiri ke gelanggang dan mengalahkan Singobarong. Pertunjukan reog digambarkan dengan tarian para prajurit yang tak cuma didominasi para pria tetapi juga wanita, gerak bringasan para warok, serta gagah dan gebyar kostum Sewandana, sang raja pencari cinta.
Versi lain dalam Reog Ponorogo mengambil kisah Panji. Ceritanya berkisar tentang perjalanan Prabu Kelana Sewandana mencari gadis pujaannya, ditemani prajurit berkuda dan patihnya yang setia, Pujangganong. Ketika pilihan sang prabu jatuh pada putri Kediri, Dewi Sanggalangit, sang dewi memberi syarat bahwa ia akan menerima cintanya apabila sang prabu bersedia menciptakan sebuah kesenian baru. Dari situ terciptalah Reog Ponorogo. Huruf-huruf reyog mewakili sebuah huruf depan kata-kata dalam tembang macapat Pocung yang berbunyi: Rasa kidung/ Ingwang sukma adiluhung/ Yang Widhi/ Olah kridaning Gusti/ Gelar gulung kersaning Kang Maha Kuasa. Unsur mistis merupakan kekuatan spiritual yang memberikan nafas pada kesenian Reog Ponorogo.
Warok
Warok sampai sekarang masih mendapat tempat sebagai sesepuh di masyarakatnya. Kedekatannya dengan dunia spiritual sering membuat seorang warok dimintai nasehatnya atas sebagai pegangan spiritual ataupun ketentraman hidup. Seorang warok konon harus menguasai apa yang disebut Reh Kamusankan Sejati, jalan kemanusiaan yang sejati.
reog231
Warok dalam pertunjukan Reog Ponorogo © 2005 arie saksono
Warok adalah pasukan yang bersandar pada kebenaran dalam pertarungan antara kebaikan dan kejahatan dalam cerita kesenian reog. Warok Tua adalah tokoh pengayom, sedangkan Warok Muda adalah warok yang masih dalam taraf menuntut ilmu. Hingga saat ini, Warok dipersepsikan sebagai tokoh yang pemerannya harus memiliki kekuatan gaib tertentu. Bahkan tidak sedikit cerita buruk seputar kehidupan warok. Warok adalah sosok dengan stereotip: memakai kolor, berpakaian hitam-hitam, memiliki kesaktian dan gemblakan.Menurut sesepuh warok, Kasni Gunopati atau yang dikenal Mbah Wo Kucing, warok bukanlah seorang yang takabur karena kekuatan yang dimilikinya. Warok adalah orang yang mempunyai tekad suci, siap memberikan tuntunan dan perlindungan tanpa pamrih. “Warok itu berasal dari kata wewarah. Warok adalah wong kang sugih wewarah. Artinya, seseorang menjadi warok karena mampu memberi petunjuk atau pengajaran kepada orang lain tentang hidup yang baik”.Warok iku wong kang wus purna saka sakabehing laku, lan wus menep ing rasa” (Warok adalah orang yang sudah sempurna dalam laku hidupnya, dan sampai pada pengendapan batin).
Syarat menjadi Warok
Warok harus menjalankan laku. “Syaratnya, tubuh harus bersih karena akan diisi. Warok harus bisa mengekang segala hawa nafsu, menahan lapar dan haus, juga tidak bersentuhan dengan perempuan. Persyaratan lainnya, seorang calon warok harus menyediakan seekor ayam jago, kain mori 2,5 meter, tikar pandan, dan selamatan bersama. Setelah itu, calon warok akan ditempa dengan berbagai ilmu kanuragan dan ilmu kebatinan. Setelah dinyatakan menguasai ilmu tersebut, ia lalu dikukuhkan menjadi seorang warok sejati. Ia memperoleh senjata yang disebut kolor wasiat, serupa tali panjang berwarna putih, senjata andalan para warok. Warok sejati pada masa sekarang hanya menjadi legenda yang tersisa. Beberapa kelompok warok di daerah-daerah tertentu masih ada yang memegang teguh budaya mereka dan masih dipandang sebagai seseorang yang dituakan dan disegani, bahkan kadang para pejabat pemerintah selalu meminta restunya.
Gemblakan
Selain segala persyaratan yang harus dijalani oleh para warok tersebut, selanjutnya muncul disebut dengan Gemblakan. Dahulu warok dikenal mempunyai banyak gemblak, yaitu lelaki belasan tahun usia 12-15 tahun berparas tampan dan terawat yang dipelihara sebagai kelangenan, yang kadang lebih disayangi ketimbang istri dan anaknya. Memelihara gemblak adalah tradisi yang telah berakar kuat pada komunitas seniman reog. Bagi seorang warok hal tersebut adalah hal yang wajar dan diterima masyarakat. Konon sesama warok pernah beradu kesaktian untuk memperebutkan seorang gemblak idaman dan selain itu kadang terjadi pinjam meminjam gemblak. Biaya yang dikeluarkan warok untuk seorang gemblak tidak murah. Bila gemblak bersekolah maka warok yang memeliharanya harus membiayai keperluan sekolahnya di samping memberinya makan dan tempat tinggal. Sedangkan jika gemblak tidak bersekolah maka setiap tahun warok memberikannya seekor sapi. Dalam tradisi yang dibawa oleh Ki Ageng Suryongalam, kesaktian bisa diperoleh bila seorang warok rela tidak berhubungan seksual dengan perempuan. Hal itu konon merupakan sebuah keharusan yang berasal dari perintah sang guru untuk memperoleh kesaktian.
Kewajiban setiap warok untuk memelihara gemblak dipercaya agar bisa mempertahankan kesaktiannya. Selain itu ada kepercayaan kuat di kalangan warok, hubungan intim dengan perempuan biarpun dengan istri sendiri, bisa melunturkan seluruh kesaktian warok. Saling mengasihi, menyayangi dan berusaha menyenangkan merupakan ciri khas hubungan khusus antara gemblak dan waroknya. Praktik gemblakan di kalangan warok, diidentifikasi sebagai praktik homoseksual karena warok tak boleh mengumbar hawa nafsu kepada perempuan.
Saat ini memang sudah terjadi pergeseran dalam hubungannya dengan gemblakan. Di masa sekarang gemblak sulit ditemui. Tradisi memelihara gemblak, kini semakin luntur. Gemblak yang dahulu biasa berperan sebagai penari jatilan (kuda lumping), kini perannya digantikan oleh remaja putri. Padahal dahulu kesenian ini ditampilkan tanpa seorang wanita pun.
Reog di masa sekarang
http://webcache.googleusercontent.com

Friday, August 27, 2010

Seni Kolase atau Montage

Referensi: ilhamendra.wordpress.com/beranda/Kolase adalah karya gunting tempel ( cut and paste ), pemotongan objek - objek biasanya berupa gambar, dan kemudian kita menempelkan objek - objek itu dengan perekat misal: lem atau sejenisnya.

Sejarah
Kolase dapat dikatakan muncul, yaitu setelah perang dunia pertama, dan pada awalnya terjadi di bidang fotografi. Tetapi, kolase ini baru mulai mendapatkan perhatian yang serius bagi para seniman ketika terjadi gerakan kreativitas yang baru di Berlin, Jerman, yang dikenal dengan gerakan Dada.
Para aktivis Dada, di antaranya John Heartfield, Hannah Höch, Johannes Baader, Raoul Hausmann, dan George Grosz, mengupayakan pencarian sebuah makna sekaligus alat ekspresi yang baru (means of expression). Mereka menolak untuk hanyut dalam arus abstraksi, tetapi juga tidak begitu saja kembali pada tradisi lukisan figuratif. Dan kolase adalah salah bentuk karya yang sering digunakan oleh para aktivis Dada itu dalam mengungkapkan keyakinan-keyakinan mereka.

Dada selalu mengenai perlawanan atas keadaan yang mapan (status quo). Dalam pandangan para aktivis Dada, status quo telah menciptakan perang yang paling menghancurkan dalam sejarah Eropa. Para aktivis Dada juga menolak kemapanan dalam bidang seni yang berwujud status seniman. Untuk hal itu, salah seorang aktivis Dada Hannah Höch pernah mengatakan bahwa “…Kami menyebutnya fotomontase karena ia merefleksikan keengganan kami untuk menyatakan diri sebagai seniman. Kami menganggap diri kami sebagai insinyur, kami mengelolanya sehingga kami membangun sesuatu, kami bilang bahwa kami meletakkan karya-karya kami bersama seperti tukang rakit.”
Kolase yang lahir bersama dengan gerakan Dada, secara perlahan mengalami kemunduran. Setelah mengalami mati suri beberapa tahun lamanya, akhirnya kolase muncul lagi kepermukaan pada tahun 1960-an. Beberapa seniman yang berhubungan dengan gerakan pop art mulai menggunakan foto-foto dan tulisan majalah untuk menciptakan bentuk kolase dalam menyampaikan ide-ide mereka. Kebangkitan punk di Inggris juga ikut menyumbang kembalinya kolase ke pentas seni dunia, dan salah satu kolase punk yang cukup terkenal hingga detik ini dapat dilihat pada kolase “God Save the Queen” yang dibuat oleh Jamie Reid pada tahun 1977 untuk band Sex Pistols.
Kebangkitan yang penting selanjutnya dalam penggunaan kolase di Eropa berkaitan dengan gerakan politik antinuklir di tahun 1980-an. Banyak karya yang dirancang untuk digunakan dalam spanduk atau poster demonstrasi gerakan antinuklir itu. Peter Kennard dan Klaus Staeck adalah 2 (dua) nama yang dapat disebut berkaitan dengan kebangkitan kolase di tahun 1980-an. Keduanya telah banyak menghasilkan kolase yang politis. Klaus Staeck bahkan dapat dianggap sebagai penerus tradisi kolase Heartfield dari gerakan Dada, karena banyak kolasenya yang berbentuk single image with caption menyertakan tulisan kalimat kritik politis yang cerdas. Dalam gerakan Dada, memang Heartfield menjadi semacam pelopor dari bentuk kolase single image with caption. Berkaitan dengan bentuk kolase single image with caption, Heartfield menganggap bahwa tulisan dan gambar dapat saling berinteraksi satu dengan lainnya untuk menghadirkan sindiran visual yang masuk akal.



Tema dan Semangat dalam Kolase
Mengenai tema yang diangkat dalam karya kolase, setidaknya dapat dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu tema yang sifatnya sosial dan politik, serta tema yang sifatnya personal. Pada gerakan Dada, walaupun penuh dengan semangat yang politis, namun tidak semua aktivisnya ikut menghadirkan tema-tema politik ke dalam karya-karya mereka. Tidak seperti halnya Heartfield yang karya-karya kolasenya sangat politis, Kurt Schwitters malah lebih sering untuk mengangkat tema yang sifatnya sangat personal, bahkan terkesan absurd.
Bila kembali melihat pada masa awal lahirnya kolase, maka setidaknya terdapat ciri khas semangat yang dibawa oleh karya kolase itu. Yaitu, yang pertama, adanya semangat ingin selalu mengadakan perubahan. Mengambil gambar di sana-sini dari berbagai sumber yang berlainan, kemudian berusaha menyatukan semua potongan gambar itu dalam satu bidang, cukup kuat mengesankan proses ingin menciptakan sesuatu yang baru dari sesuatu yang lama, keinginan untuk membongkar struktur lama dan kemudian memperbaruinya.
Ke dua, adalah semangat pemberontakan terhadap struktur-struktur yang mapan. Gambar-gambar dari suatu sumber yang biasanya dilindungi oleh hukum sebagai hak kekayaan intelektual, dalam kolase dijungkirbalikkan dengan seenaknya oleh pembuat kolase, mengambilnya dan kemudian menyatukannya dengan gambar lain yang juga, mungkin, dilindungi oleh lembaga copyright tadi.
Termasuk pula dalam pemahaman semangat pemberontakan terhadap lembaga mapan ini adalah semangat dalam menghancurkan kemapanan tembok pembatas antara seniman dengan nonseniman, antara siapa yang pantas disebut seniman dengan yang bukan seniman. Dengan penghancuran tembok pembatas ini, semua orang adalah seniman, ia dapat saja dengan mudah menghasilkan karya seninya sendiri tanpa harus belajar lebih dulu di sekolah seni ataupun mengikuti kursus seni. Untuk hal itu, G. Jula Dech pernah berkomentar, bahwa kolase itu mempunyai arti penting secara politis, karena di dalamnya terdapat “…penekanan yang kuat pada elemen-elemen teknik dalam sebuah serangan pada estetika borjuis yang irrasional…”, dan juga “…sebagai teknik yang dapat dipelajari, khususnya oleh massa umum dari para seniman amatir”.
Dan yang ke tiga, adalah perayaan atas pluralitas atau perayaan atas keberagaman untuk menuju sesuatu yang baru atau yang lebih baik. Dalam kolase, akan ada banyak obyek yang berlainan yang diambil dari berbagai sumber kemudian disatukan menjadi suatu bentuk yang memiliki arti yang baru. Bentuk-bentuk yang berbeda latar belakang sumber asalnya disatukan atau diharmoniskan untuk mencapai sesuatu yang unik sekaligus indah. Keberagaman asal sumber potongan gambar yang kemudian disatukan, kuat mengesankan muatan semangat ingin merayakan keberagaman untuk menuju sesuatu yang indah. Lebih dalam lagi, ini mengandung arti bahwa adanya perbedaan adalah untuk saling memahami. Yaitu, bahwa di balik perbedaan tersebut masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan yang bisa saling menutupi, saling membantu satu dengan yang lainnya untuk menciptakan sesuatu yang lebih baik.

 By: Widinia Dinda Ayuningtyas

Thursday, August 26, 2010

TARI KECAK seni tari tradisonal Bali yang sarat akan ritual kepada arwah nenek moyang

Reverensi: wikipedia indonesia dan arsip pribadi tahun 2008-an.

Tari kecak adalah pertunjukan seni khas Bali yang diciptakan pada tahun 1930-an dan dimainkan terutama oleh laki-laki.
Tarian ini dipertunjukkan oleh banyak (puluhan atau lebih) penari laki-laki yang duduk berbaris melingkar dan irama tertentu merukan "cak" dan mengangkat kedua lengan, menggambarkan kisah Ramayana saat barisan kera membantu Rama melawan Brahmana.

Namun demikian, Kecak berasal dari ritual Sanghyang, yaitu tradisi tarian yang penarinya akan berada pada kondisi tidak sadar, melakukan komunikasi dengan Tuhan atau roh para leluhur dan kemudian menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat.

Para penari yang duduk melingkar tersebut mengenakan kain kotak-kotak sepeti papan catur mengelilingi pinggang mereka. Selain para penari itu, ada pula para penari lain yang memerankan tokoh-tokoh Ramayana seperti Rama, Shinta, Rahwana, Hanoman, dan Surigwa.

Lagu tari kecak diambil dari ritual tarian Sanghyang. Selain itu, tidak digunakan alat musik. Hanya digunakan kincringan yang dikenakan pada kaki penari yang memerankan tokoh-tokoh Ramayana.

Sekitar tahun 1930-an, Wayan Limbak bekerja sama dengan pelukis Jerman, Walter Spies menciptakan tari Kecak berdasarkan tradisi Sanghyang dan bagian-bagian kisah Ramayana.

Wayan Limbak mempopulerkan tari ini saat berkeliling dunia bersama rombongan penari Balinya.

By: Sintia Rahmah Nisa

Wednesday, August 25, 2010

Batik asli buatan Indonesia..

bingung harus nge-post apa..?!
apa aja deh, yg penting bisa ngasih pengetahuan buat yang baca yaa.. aminn ;D

Batik, I LOVE BATIK,, what...???
Batik itu adalah kesenian asli Indonesia oleh para pengrajin Indonesia pula. Menurut saya batik merupakan prestasi bangsa Indonesia dan patut dibanggakan, karena kita harus cinta produk buatan negeri sendiri.
Memang sulit untuk menggunakan produk dalam negeri, karena pengaruh GLOBALISASI kita tidak ingin ketinggalan zaman oleh mode dunia.

Pengertian BATIK :
Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya "Batik Cap" yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak "Mega Mendung", dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.


Teknik pembuatan :
Yang pertama, adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunkan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain.
Kedua adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik tersebut, termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan. Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan. sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober, 2009.

By: Widinia Dinda Ayuningtyas

FIRST POST, kebudayaan Jepang di musim semi dan musim panas

FIRST POST!!
Ngepost apa ya? :)

Karena tugasnya bikin blog tentang seni dan kebudayaan, dan karena saya suka sama Jepang, saya mau update soal Jepang deh for the first time. Hehehe.

Well, sebelum menginjak topic, blog referensi saya buat ngeupdate tentang budaya-budaya Jepang kebanyakan dari blog ini: Greatrendyman

Isinya udah keren, pake bahasa Indonesia lagi. Dan exclusive langsung dilaporkan dari Jepang dan dialami langsung sama si owner blog. Ya, jadi dia itu orang Indonesia yang kerja di Jepang dan sering post tentang sisi kebudayaan Jepang yang bahkan belum kita ketahui sama sekali.

Ya, selama ini kita cuma tahu kalo Jepang itu identik sama anime, manga, harajuku, cosplay, dan lain lain.

Tapi di sini, saya mau ngeshare soal budaya lain yang biasanya dilakukan di Jepang.

Misalnya, pada musim semi, mereka akan menggelar tikar di bawah pohon sakura, dan bersama sama mengadakan piknik di bawah pohon sakura bersama-sama dengan keluarga, sahabat, atau rekan kerja. Kegiatan tersebut disebut hanami.

Yang diambil dari kata "hana" yang artinya bunga, dan "mi" yang berarti melihat. Jadi, hanami pada umumnya berarti melihat bunga.

Namun, orang Jepang sendiri menafsirkan hanami adalah sebagai pesta atau moment kumpul bersama keluarga di bawah pohon sakura yang sedang bermekaran.

Kemudian, pada musim panas, ada festival yang biasanya diadakan pada saat hari pertama musim panas. Festival ini biasa disebut festival tanabata.

Semua orang mengenakan yukata (baju adat Jepang khusus untuk musim panas, yang lebih tipis dari kimono) pada saat festival ini berlangsung.

Festival ini konon diadakan karena pada saat malam pertama musim panas, putri kaguya (dewi yang dipercaya masyarakat Jepang adalah dewi bulan) turun ke Bumi untuk bertemu kekasihnya *lupa siapa namanya haha*.

Festival tanabata biasanya diadakan pada malam hari dan ditutup oleh melihat pesta kembang api bersama-sama. Pada saat festival ini pula, dibuka berbagai kios yang menjual berbagai macam makanan dan permainan, memanjang di sepanjang area festival tanabata berlangsung.

Sehabis tanabata dilangsungkan, biasanya tempat pemandian di Jepang akan penuh sesak oleh orang-orang yang ingin berendam, mendinginkan diri.
Karena musim panas, akan datang, dan asal tahu saja, musim panas di Jepang, perbedaannya sangat jauuuh apabila dibandingkan dengan hari terpanas di Indonesia sekalipun.

Karena menurut sensei saya yang sudah pernah tinggal di sana, suhu di Jepang pada saat musim panas, bukan hanya panas terik, tapi panas yang benar-benar panas, selain itu juga udara di sana lembab karena Jepang adalah negara kepulauan.

Kata sensei saya, "Pokoknya kalo udah musim panas di Jepang pengennya diem di rumah, soalnya panas di luar bener-bener ga enak."

Ya, begitulah. Karena masih post pertama, saya masih agak kaku dalam menyampaikan posting yang bisa membuat orang menarik untuk membacanya. Karena biasanya saya menulis blog hanya untuk saya sendiri, dan saat disuruh membuat blog untuk dibaca oleh orang yang skalanya lebih besar, saya kebingungan menggunakan bahasa hahaha.

I think, enough for now, and see you later! ^^


-admin SRN-
(Sintia Rahmah Nisa^^)